Malam

Belum terlalu kelam, namun ku sudah merindumu.

Aku hanya berhak merindumu, tidak yang lain.

Jadi, begini saja malam-malamku.

Namun tak apa, ia tetap istimewa dengan merindumu.

Maaf, aku lancang merindumu disetiap malam-malam sunyi. Mungkin ada jiwa lain juga yang merindumu, setidaknya memang aku tidak tahu sesungguhnya ada atau tidak.

Terimakasih, kau tak marah akan kerinduanku yang lancang.

Jika,

Rindu ini telah sampai pada relungmu, jangan lupa sampaikan kepadaku dengan rindu pula.

Iklan

Soal-soal kehidupan

Terkadang hidup

Tak melulu soal cinta

Tak melulu soal kedamaian

Tak melulu soal kesehatan

Tak melulu soal kemewahan

Bahkan hidup adalah soal sakit hati, perselisihan, dan sakit. Raga mungkin juga jiwa.

Tapi kita harus ingat bahwa hidup adalah melulu tentang Sang Kuasa. Kembalikan semua persoalan kepada-Nya. Persoalan yang melulu kita keluhkan, dan sedikit kita syukuri.

Jangan sekali-kali meremehkan hal mungil. Karna pasalnya, banyak pelawak yang tidak lucu. Tetapi koruptor sangat lucu dengan gilanya kepada harta.

Jadi, bisa saja yang mungil itu sebenarnya tak mungil.

11.19

Selamat siang mentari, aku ingin bercengkrama denganmu sejanak saja. Aku kehilangan diriku. Entah dimana aku harus terus mencari. Yang jelas aku tidak bisa berbalik arah untuk menemukannya. Aku tidak tahu kapan ia tega meninggalkanku dengan lancang. Mentari, apakah dari sana dapat kau lihat dimana ia? Jika iya, tolong beritahu untuk kembali :”)

Salah

Aku merasa salah membanggakanmu. Entah karena kebodohanku, kepolosanku, keegoisanku, atau memang karena kepiawaianmu berdrama menyembunyikan bangkai.

Kupikir bijakmu adalah hakiki. Tak sedikitpun terlintas benang hitam tentangmu. Tapi waktu tak pernah ingkar untuk menyatakan kehakikian. Dan aku pun sangat berterimakasih.

Aku tak mengerti, bagaimana gigihnya kau mencari hingga kau menyia-nyiakan.

Berlian indah dengan kilaunya, kau telantarkan.

Sejenak terlintas, bahwa aku tidak perlu berterimakasih pada keseluruhan dirimu. Namun hanya pada kesediaanmu berdiri disamping kilaunya. Dan aku sadar, saat itu secuil emosiku tentang amarah sedang memuncak. Syukur, aku sanggup mengendalikan.

Tentang semua itu, membuatku sulit untuk percaya pada insan sejenismu. Kepada siapa harus kulimpahkan rasa percayaku, aku pun tak tahu. Karena, berlianku saja berhasil kau pupuskan rasa percayanya terhadapmu.

Jika menurutmu rasaku ini ada hanya karna aku belum mengerti. Maafkanlah, aku memang tak bisa menandingi kepiawaianmu.

Mutiara dalam kerang

Saat hedonisme menyerang para penggulat buku. Terselip diantara mereka yang berbelit dengan keringatnya. Mengambil resiko dengan modal keberanian.

Aku kagum, masih ada yang seperti ini. Aku bangga. Namun tak ada yang bisa kulakukan untuk menghargainya lebih.

Bukan gemerlap yang mereka lirik. Tapi celah sempit yang dapat menghubungkan pada cahaya, itu lebih menarik bagi mereka. Bersabarlah dengan celah itu kawan. Aku yakin celah itu takkan berkhianat tuk antarkanmu pada cahaya, pasti.

Bahkan seharusnya aku pun begitu.

Kau Berbeda

Ada kemewahan dan keindahan, lalu mereka menikmatinya. Ada perjuangan berat, lalu mereka perlahan menjauhinya. Lalu bagaimana mereka akan mengabadikan kenikmatan?
Ku lihat beda dirimu saat ku anggap semua sama, kau berbeda dengan perjuanganmu dan aku malu. Ajari aku tentang yang membuat dirimu berbeda dan membuatku malu itu.

Tetap menjadi dirimu yang sekarang walaupun nanti matahari mengajakmu menyinari pagi, karna malam masih punya kejutan bulan dengan paras kilau bintang-bintangnya.

Kau berbeda